« Previous Entries

Arsip bulan May, 2009

Kasus Suap Proyek Dermaga, KPK Cari Ajudan Jhonny Allen

Friday, May 29th, 2009 | kategori: HUKUM | No Comments »

sekilasindonesia.com - Ajudan politisi Partai Demokrat, Jhonny Allen Marbun, kini tengah dicari Komisi Pemberantasan Korupsi. Rescho diduga terlibat dalam kasus dugaan suap pembangunan proyek dermaga di Indonesia timur.

( Baca Selengkapnya )

PAN Duga Caleg Demokrat Lakukan Pidana Pemilu,Caleg Demokrat Membawa Bukti Palsu

Friday, May 29th, 2009 | kategori: Uncategorized | No Comments »

sekilasindonesia.com - Kuasa hukum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Amanat Nasional (PAN), Sulistyowati menduga calon anggota legislatif (caleg) Partai Demokrat asal Daerah Pemilihan (dapil) Minahasa Utara III, Manado, melakukan pidana pemilu.

( Baca Selengkapnya )

9 TKI Jadi Korban Bangunan Runtuh di Seksyen 14 Petaling jaya Malaysia, 2 Orang Tewas Cendera dan 5 Orang Masih Terperangkap dalam Reruntuhan Bangunan

Friday, May 29th, 2009 | kategori: PERISTIWA | No Comments »

sekilasindonesia.com - Sebanyak sembilan tenaga kerja Indonesia (TKI) menjadi korban runtuhnya bangunan Jaya Supermarket di Petaling Malaysia. “Mereka pekerja bangunan yang semuanya berasal dari Indonesia,” kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno dalam jumpa pers di kantornya, Jumat, 29 Mei 2009.

( Baca Selengkapnya )

RUU Pengadilan Korupsi, Hanya 20 Anggota Pansus Terpilih Kembali

Friday, May 29th, 2009 | kategori: HUKUM | No Comments »

sekilasindonesia.com - Indonesia Corruption Watch menemukan hanya 20 dari 50 anggota panitia khusus Rancangan Undang-undang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang terpilih kembali. ICW mengkhawatirkan RUU Pengadilan Korupsi tidak bisa selesai sebelum masa jabatan DPR 2004-2009 ini habis.

( Baca Selengkapnya )

Sulut Dapat Dana PNPM 2009 Rp94,7 Miliar

Friday, May 29th, 2009 | kategori: EKONOMI | No Comments »

sekilasindonesia.com - Sulut Dapat Dana PNPM 2009 Rp94,7 Miliar Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mendapat dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaan 2009 sebesar Rp94,7 miliar untuk 1.122 desa dan 106 kecamatan.

( Baca Selengkapnya )

Bentrokan Dua Suku Besar Tewaskan 244 Orang

Friday, May 29th, 2009 | kategori: INTERNASIONAL | No Comments »

sekilasindonesia.com -  Bentrokan antara dua suku nomaden besar Arab di wilayah Kordofan Selatan di Sudan sepekan terakhir ini telah menewaskan 244 orang, termasuk sejumlah pejabat polisi.

( Baca Selengkapnya )

Eksekusi Kompleks Kostrad, Dua Rumah Warga Mulai Dikosongkan

Friday, May 29th, 2009 | kategori: PERISTIWA | No Comments »

sekilasindonesia.com - Aksi bakar ban yang dilakukan oleh warga Kompleks Kostrad terus meluas. warga mencoba menghadang masuk tim penertiban. Warga yang melakukan penghadangan kembali membakar ban di sisi barat kompleks yang menuju akses masuk RW 5 perumahan warga.

( Baca Selengkapnya )

Gedung Tua di Petaling Jaya Malaysia Roboh, Dua WNI Tewas

Friday, May 29th, 2009 | kategori: PERISTIWA | No Comments »

sekilasindonesia.com - Suatu bangunan tua di Kota Petaling Jaya, Malaysia, tiba-tiba langsung runtuh di tengah proses penghancuran, Kamis (28/5) sore. Dua pekerja asal Indonesia tewas seketika dalam kejadian yang berlangsung di gedung Jaya Supermarket itu.

( Baca Selengkapnya )

« Arsip Sebelumnya

SAMPAIKAN TULISAN ANDA DAN INFORMASI DILINGKUNGAN ANDA MELALUI SMS KE 081386777289 EMAIL- redaksi@sekilasindonesia.com.


TK

TAUFIK KIEMAS KETUA MPR RI

irman

IRMAN GUSMAN KETUA DPD RI


baner_kanan_tengah
  • Komentar Anda

Sidang Paripurna DPR yang Alot

SIDANG Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tentang keputusan akhir angket kasus Century menjadi sangat ribet. Ada peraturan tentang rapat, ada formula tentang keputusan, ada opsi voting, tetapi pilihan yang tersedia itu seakan buntu. Yang membuat ribet adalah lobi yang dengan bangga dikatakan sebagai bagian vital dari perpolitikan di mana pun. Lobi yang sesungguhnya dimaksud untuk memperlancar keputusan dipakai sedemikian rupa sehingga menyumbat kesimpulan. Itu yang terjadi dua hari Sidang Paripurna DPR tentang angket Century. Mekanisme persidangan di bawah kepemimpinan Ketua DPR Marzuki Alie berjalan dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain. Ekstrem pertama adalah diktator palu yang harus dijatuhkan Marzuki untuk menghentikan banjir interupsi. Sidang pun dibikin supercepat sehingga selesai hanya dalam setengah hari. Ekstrem kedua, kemarin, Marzuki Alie tidak bisa mengendalikan interupsi anggota yang berlangsung hampir 2 jam. Puncaknya adalah ketika lobi memacetkan persidangan sampai jauh malam. Lobi bukannya menyehatkan, melainkan mematikan akal sehat. Sesungguhnya sidang paripurna tidak perlu menjadi ribet. Pansus telah merumuskan dua formula untuk dipilih oleh fraksi-fraksi. Dalam pandangan akhir fraksi jelas sekali terlihat bahwa fraksi yang memilih opsi C, yaitu kebijakan bailout Century terindikasi kuat bermasalah atau melanggar hukum, memenanginya. Pilihan A, yang menganggap bailout Century adalah kebijakan yang benar, kalah. Namun, aneh sekali sesuatu yang sudah jelas dan mengerucut itu harus dibawa lagi ke lobi untuk dimusyawarahkan. Menjadi semakin aneh dan tambah rumit ketika dalam forum lobi muncul lagi opsi untuk menerima bahwa opsi A dan C sama-sama benar dengan formula AC. Menggabungkan opsi A dan C yang salah dan benar menjadi benar dua-duanya mencerminkan lagi betapa sakitnya cara berpikir perpolitikan kita. Bagaimana mungkin ada opsi untuk menerima kejahatan dan kebenaran sebagai hal yang sama baiknya? Mana boleh para elite dan orang-orang terpandang di DPR tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar? Padahal mereka berteriak lantang bahwa salah satu tugas fundamental Pansus Angket Century adalah menemukan yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar? Mufakat dan musyawarah akan menjadi penyumbat yang menyulitkan ketika para politikus tidak cerdas dan cekatan berkomunikasi dan berargumentasi. Musyawarah dan mufakat akhirnya kita jadikan sebagai diktator yang mengharamkan voting. Padahal voting diatur dalam undang-undang. Marzuki Alie kelihatan memikul beban berat untuk memenangkan salah satu opsi. Karena dia dari Partai Demokrat, opsi yang dibela tentu opsi A. Tetapi, yang jauh lebih konyol adalah menghadirkan opsi AC. (MI/Tam/editorial-04-03-2010)

Pasang Iklan Di sini

untuk memasang, iklan silakan kontak email kami melalui Telp:021-28727980 atau email: redaksi@sekilasindonesia.com