Janji Perubahan Masih Sekedar janji Kampanye
June 30, 2009
sekilasindonesia.com - Tiga pasangan capres-cawapres yang bertarung dalam pemilu presiden kali ini belum ada yang menawarkan agenda perubahan dalam visi dan misi mereka. Kalaupun ada salah satu pasangan yang menawarkan agenda perubahan, hal itu masih bersifat abstrak, dan terkesan sebagai janji pemanis kampanye belaka.
Demikian pendapat yang disampaikan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah La Ode Ida, dan Peneliti dari LSM Mitra Perubahan Indonesia, Arifadi Budiarjo, selaku panelis dalam diskusi publik bertajuk “Benarkah Mereka Membawa Perubahan?” yang digelar di Gedung DPD RI Jakarta, Selasa (30/6). Turut hadir dalam diskusi tersebut perwakilan dari masing-masing tim sukses pasangan Megawati-Prabowo, Yudhoyono-Boediono, dan Kalla-Wiranto.
Wakil Ketua DPD La Ode Ida menilai, setelah peristiwa reformasi 98′, praktis tidak ada satupun pemimpin nasional yang sungguh-sungguh melakukan perubahan. Jika ada sosok pemimpin pasca reformasi yang telah melakukan perubahan, La Ode menilai sosok presiden keempat RI, yakni Abdurrahman Wahid, sebagai pemimpin nasional yang telah melakukan perubahan politik dengan menghapus dwi fungsi TNI.
Selebihnya, La Ode tidak melihat ada satupun tokoh calon pemimpin yang menjanjikan atau berani mengusung agenda perubahan secara konkrit, jelas, dan detail. Semua capres-cawapres yang bertarung, kata dia, sama-sama tidak memiliki visi yang jelas tentang agenda perubahan yang paling dibutuhkan bangsa.
Perubahan hanya terjadi di era reformasi. Sedangkan dari pasangan capres-cawapres yang ada saat ini masih belum jelas konsep perubahan yang diusung mereka. Apa yang dimaksud prorakyat? Apa neoliberalisme? Semua tidak jelas,” katanya.
La Ode menambahkan, bahwa kunci sukses mewujudkan perubahan pada dasarnya terletak pada kemampuan seorang pemimpin mencegah terjadinya konflik kepentingan saat menjalankan program-program pemerintahannya. Apabila ada pemimpin yang berhasil menghilangkan konflik kepentingan dalam tubuh birokrasi dan kabinet, La Ode yakin, perubahan akan terwujud berkat pelaksanaan program pemerintah yang bersih dari konflik kepentingan.
Hal senada dengan La Ode, Arifadi Budiarjo dari LSM Mitra Perubahan Indonesia menilai konsep-konsep yang ditawarkan tiga pasangan capres-cawapres belum komprehensif karena tidak menyertakan penjelasan tentang bagaimana menerapkan konsep-konsep tersebut dalam kehidupan nyata. Sebaliknya, para capres-cawapres justru dinilai Budiarjo asyik tenggelam dalam hiruk pikuk kampanye dan lebih mengedepankan penyebarluasan janji politik. Para pasangan tersebut, lanjutnya, telah melupakan fungsi kampaye yang seharusnya dimanfaatkan sebagai ajang pendidikan politik dan ajang menyebarluaskan gagasan-gagasan mereka kepada rakyat.
Paparan dari para panelis itu langsung dibantah oleh ketiga anggota tim sukses yang hadir dalam diskusi tersebut. Indra J Piliang dari kubu Kalla-Wiranto mengatakan, dari ketiga pasangan yang bertarung saat ini, Kalla-Wiranto adalah pasangan yang paling produktif menelurkan gagasan-gagasan baru dan segar. Dia kemudian mencontohkan gagasan seperti pembangunan PLTU berkapasitas 100.000 ribu megawatt, dan gagasan mendirikan Bank Pendidikan, yang dinilainya sebagai gagasan yang mengusung agenda perubahan. Di sisi lain, Indra menilai SBY-Boediono dan Megawati-Prabowo sebagai pasangan yang hanya mengusung visi. (Tammo)
ditulis pada Tuesday, June 30th, 2009 waktu 6:21 pm kategori : POLITIK. RSS 2.0 komentar
Tidak ada Komentar »
Belum ada komentar
RSS feed untuk berita ini TrackBack URI