« Previous Entries

Arsip bulan July, 2009

SBY Jalan Sore Sambil Coba Panser di Cikeas

Friday, July 31st, 2009 | kategori: KESEHATAN | No Comments »

sekilasindonesia.com - Karena menderita flu, selama satu hari penuh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) beristirahat di kediaman pribadi. Mungkin agak sedikit bosan seharian di dalam rumah, Presiden SBY pun JJS alias jalan-jalan sore sambil mencoba panser.

( Baca Selengkapnya )

HUT Tabloid Duta Bangsa Ke V” Berikan Kepuasan Minat Baca Publik

Friday, July 31st, 2009 | kategori: PENDIDIKAN, SEJARAH | No Comments »

sekilasindonesia.com - Menjelang HUT Tabloid Duta Bangsa ke V besok 1- Agustus” Seluruh wartawan Tabloid Duta Bangsa ditekankan untuk menjaga kode etik jurnalistiknya, demi meningkatkan kontrol untuk mengawal Demokrasi kedepan lebih baik, serta dapat menjadi corong masyarakat bawah hingga ketingkat pusat, guna kemajuan bangsa dan negara ini.

( Baca Selengkapnya )

Prita Kembali Terancam Dipenjara

Friday, July 31st, 2009 | kategori: SEJARAH | No Comments »

sekilasindonesia.com - Prita Mulyasari akan kembali menjalani persidangan kasus dugaan pencemaran nama baik terhadap Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutera. Ia kembali terancam enam tahun penjara.

( Baca Selengkapnya )

Sidang Perdana Penganiayaan Terhadap Wartawan Oleh Kader Demokrat Digelar

Friday, July 31st, 2009 | kategori: HUKUM | No Comments »

sekilasindonesia.com - Rudolf Kumbubui mantan kader Demokrat yang didakwa melakukan tindak pidana penganiayaan terhadap wartawan Sinar Harapan Odeodata Vanduk. Dalam sidang perdana itu, terdakwa mengakui perbuatannya telah menendang Odeodata saat Kampanye pemilu Presiden cawapres Boediono ke Jayapura.

( Baca Selengkapnya )

Anjing Beranak Kucing Di Bengkulu

Thursday, July 30th, 2009 | kategori: PERISTIWA | No Comments »

sekilasindonesia.com - Tuhan menunjukkan kekuasaanya kepada seluruh umatnya yang hidup didunia ini. Keajaiban ini ditnjukan oleh seekor anjing milik Ujang warga Gajah Mada Dua, Kelurahan Air Rambai, Kecamatan Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu.

( Baca Selengkapnya )

Pasangan Capres-Cawapres PDI Perjuangan-GerindraMega-Prabowo Bertemu Gus Dur

Thursday, July 30th, 2009 | kategori: POLITIK | No Comments »

sekilasindonesia.com — Pasangan capres-cawapres PDI Perjuangan-Gerindra, Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto, direncanakan akan menggelar pertemuan dengan mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan sejumlah tokoh nasional, Kamis (30/7) sore. Menurut rilis yang diterima wartawan dari Infokom PDI Perjuangan, pertemuan akan dilangsungkan di kediaman pribadi Gus Dur, Ciganjur, Jakarta Selatan.

( Baca Selengkapnya )

KPU Capai Kesepakatan dengan MA

Thursday, July 30th, 2009 | kategori: HUKUM, POLITIK | No Comments »

sekilasindonesia.com — Komisi Pemilihan Umum mengakui telah mencapai kesepakatan dengan Mahkamah Agung terkait putusan MA yang memengaruhi hasil Pemilu Legislatif 2009, termasuk tentang pembatalan penghitungan kursi tahap kedua.

( Baca Selengkapnya )

Sekjen DPR”Nining Indra Saleh”Diperiksa Kasus Suap Agus Condro

Thursday, July 30th, 2009 | kategori: HUKUM | No Comments »

sekilasindonesia.com - Penyidikan kasus dugaan suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia terus dikembangkan Komisi Pemberantasan Korupsi(KPK). Kali ini, komisi dijadwalkan memeriksa Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat, Nining Indra Saleh.

( Baca Selengkapnya )

« Arsip Sebelumnya

SAMPAIKAN TULISAN ANDA DAN INFORMASI DILINGKUNGAN ANDA MELALUI SMS KE 081386777289 EMAIL- redaksi@sekilasindonesia.com.


TK

TAUFIK KIEMAS KETUA MPR RI

irman

IRMAN GUSMAN KETUA DPD RI


baner_kanan_tengah
  • Komentar Anda

Sidang Paripurna DPR yang Alot

SIDANG Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tentang keputusan akhir angket kasus Century menjadi sangat ribet. Ada peraturan tentang rapat, ada formula tentang keputusan, ada opsi voting, tetapi pilihan yang tersedia itu seakan buntu. Yang membuat ribet adalah lobi yang dengan bangga dikatakan sebagai bagian vital dari perpolitikan di mana pun. Lobi yang sesungguhnya dimaksud untuk memperlancar keputusan dipakai sedemikian rupa sehingga menyumbat kesimpulan. Itu yang terjadi dua hari Sidang Paripurna DPR tentang angket Century. Mekanisme persidangan di bawah kepemimpinan Ketua DPR Marzuki Alie berjalan dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain. Ekstrem pertama adalah diktator palu yang harus dijatuhkan Marzuki untuk menghentikan banjir interupsi. Sidang pun dibikin supercepat sehingga selesai hanya dalam setengah hari. Ekstrem kedua, kemarin, Marzuki Alie tidak bisa mengendalikan interupsi anggota yang berlangsung hampir 2 jam. Puncaknya adalah ketika lobi memacetkan persidangan sampai jauh malam. Lobi bukannya menyehatkan, melainkan mematikan akal sehat. Sesungguhnya sidang paripurna tidak perlu menjadi ribet. Pansus telah merumuskan dua formula untuk dipilih oleh fraksi-fraksi. Dalam pandangan akhir fraksi jelas sekali terlihat bahwa fraksi yang memilih opsi C, yaitu kebijakan bailout Century terindikasi kuat bermasalah atau melanggar hukum, memenanginya. Pilihan A, yang menganggap bailout Century adalah kebijakan yang benar, kalah. Namun, aneh sekali sesuatu yang sudah jelas dan mengerucut itu harus dibawa lagi ke lobi untuk dimusyawarahkan. Menjadi semakin aneh dan tambah rumit ketika dalam forum lobi muncul lagi opsi untuk menerima bahwa opsi A dan C sama-sama benar dengan formula AC. Menggabungkan opsi A dan C yang salah dan benar menjadi benar dua-duanya mencerminkan lagi betapa sakitnya cara berpikir perpolitikan kita. Bagaimana mungkin ada opsi untuk menerima kejahatan dan kebenaran sebagai hal yang sama baiknya? Mana boleh para elite dan orang-orang terpandang di DPR tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar? Padahal mereka berteriak lantang bahwa salah satu tugas fundamental Pansus Angket Century adalah menemukan yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar? Mufakat dan musyawarah akan menjadi penyumbat yang menyulitkan ketika para politikus tidak cerdas dan cekatan berkomunikasi dan berargumentasi. Musyawarah dan mufakat akhirnya kita jadikan sebagai diktator yang mengharamkan voting. Padahal voting diatur dalam undang-undang. Marzuki Alie kelihatan memikul beban berat untuk memenangkan salah satu opsi. Karena dia dari Partai Demokrat, opsi yang dibela tentu opsi A. Tetapi, yang jauh lebih konyol adalah menghadirkan opsi AC. (MI/Tam/editorial-04-03-2010)

Pasang Iklan Di sini

untuk memasang, iklan silakan kontak email kami melalui Telp:021-28727980 atau email: redaksi@sekilasindonesia.com