« Previous Entries

Arsip bulan November, 2009

Kapolri: Apapun yang Terjadi Kita Harus Solid

Monday, November 30th, 2009 | kategori: KEAMANAN | No Comments »

Sekilasindonesia.com-Kepolisian Indonesia menuai kritik tajam dalam kasus dugaan kriminalisasi dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah. Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri menegaskan apa yang menimpa Polri saat ini merupakan ujian yang harus dilalui.

( Baca Selengkapnya )

Komisi Yudisial Terima 6.550 Pengaduan Hakim

Monday, November 30th, 2009 | kategori: HUKUM | No Comments »

Sekilasindonesia.com- Pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono saat ini makin gencar melawan mafia hukum atau mafia peradilan, apalagi terkuak rekaman pengusaha, Anggodo Widjojo dengan sejumlah orang, termasuk yang diduga Wisnu Soebroto.

( Baca Selengkapnya )

Seleksi Calon Hakim Agung,DPR Menerima Enam Nama Calon Hakim Agung

Monday, November 30th, 2009 | kategori: HUKUM | No Comments »

Sekilasindonesia.com-Komisi  Yudisial (KY) menyerahkan enam nama calon hakim agung ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Selasa 23 Desember 2008. Setelah diterima Komisi III, mereka bakal menjalani uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test).

( Baca Selengkapnya )

Suramadu International Run Kacau, Wagub Saifullah Yusuf Jatim Kecewa

Monday, November 30th, 2009 | kategori: Uncategorized | No Comments »

sekilasindonesia.com-Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengaku kecewa dengan penyelenggaraan Suramadu International Run yang diikuti sejumlah pelari luar negeri, Minggu (29/11).

( Baca Selengkapnya )

DPR Berhak Dapatkan Data PPATK

Tuesday, November 24th, 2009 | kategori: HUKUM | No Comments »

sekilasindonesia.com-Dewan Perwakilan Rakyat sebagai salah satu cabang dari pemegang kekuasaan memiliki hak untuk mendapatkan data yang dimiliki  oleh pusat pelaporan analisa transaksi keuangan (PPATK). Hal itu bisa memecah kebuntuan setelah BPK tidak mampu mengurai aliran dana di Bank Century.

( Baca Selengkapnya )

Demokrat Akhirnya Dukung Hak Angket Sepenuhnya

Tuesday, November 24th, 2009 | kategori: POLITIK | No Comments »

sekilasindonesia.com -Selaras dengan sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menyatakan untuk menuntaskan persoalan Skandal Bank Century hingga tuntas, bahkan melalui angket. Akhirnya, Fraksi Partai Demokrat menyatakan untuk mendukung penggunaan Hak Angket DPR terkait skandal pencairan dana Bank Century.

( Baca Selengkapnya )

Gadis Tunarungu Diperkosa di Sekolah

Tuesday, November 24th, 2009 | kategori: Uncategorized | No Comments »

sekilasindonesia.com - pemuda pengangguran, tega memerkosa Sukma (15), bukan nama sebenarnya, gadis tunarungu di kamar mandi Sekolah Luar Biasa (SLB) Nusa Putra, Karawaci, Kota Tangerang. Petugas Kepolisian Resor (Polres) Metro Tangerang Kota langsung menangkap tersangka, Selasa (24/11), setelah menerima laporan dari pimpinan sekolah tersebut.

( Baca Selengkapnya )

Sri Mulyani Ditantang Buktikan Bantahan BPK

Tuesday, November 24th, 2009 | kategori: EKONOMI | No Comments »

sekilasindonesia.com - Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution yang membantah habis-habisan laporan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tentang bailout Bank Century dinilai tidak konkret.

( Baca Selengkapnya )

« Arsip Sebelumnya

SAMPAIKAN TULISAN ANDA DAN INFORMASI DILINGKUNGAN ANDA MELALUI SMS KE 081386777289 EMAIL- redaksi@sekilasindonesia.com.


TK

TAUFIK KIEMAS KETUA MPR RI

irman

IRMAN GUSMAN KETUA DPD RI


baner_kanan_tengah
  • Komentar Anda

Sidang Paripurna DPR yang Alot

SIDANG Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tentang keputusan akhir angket kasus Century menjadi sangat ribet. Ada peraturan tentang rapat, ada formula tentang keputusan, ada opsi voting, tetapi pilihan yang tersedia itu seakan buntu. Yang membuat ribet adalah lobi yang dengan bangga dikatakan sebagai bagian vital dari perpolitikan di mana pun. Lobi yang sesungguhnya dimaksud untuk memperlancar keputusan dipakai sedemikian rupa sehingga menyumbat kesimpulan. Itu yang terjadi dua hari Sidang Paripurna DPR tentang angket Century. Mekanisme persidangan di bawah kepemimpinan Ketua DPR Marzuki Alie berjalan dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain. Ekstrem pertama adalah diktator palu yang harus dijatuhkan Marzuki untuk menghentikan banjir interupsi. Sidang pun dibikin supercepat sehingga selesai hanya dalam setengah hari. Ekstrem kedua, kemarin, Marzuki Alie tidak bisa mengendalikan interupsi anggota yang berlangsung hampir 2 jam. Puncaknya adalah ketika lobi memacetkan persidangan sampai jauh malam. Lobi bukannya menyehatkan, melainkan mematikan akal sehat. Sesungguhnya sidang paripurna tidak perlu menjadi ribet. Pansus telah merumuskan dua formula untuk dipilih oleh fraksi-fraksi. Dalam pandangan akhir fraksi jelas sekali terlihat bahwa fraksi yang memilih opsi C, yaitu kebijakan bailout Century terindikasi kuat bermasalah atau melanggar hukum, memenanginya. Pilihan A, yang menganggap bailout Century adalah kebijakan yang benar, kalah. Namun, aneh sekali sesuatu yang sudah jelas dan mengerucut itu harus dibawa lagi ke lobi untuk dimusyawarahkan. Menjadi semakin aneh dan tambah rumit ketika dalam forum lobi muncul lagi opsi untuk menerima bahwa opsi A dan C sama-sama benar dengan formula AC. Menggabungkan opsi A dan C yang salah dan benar menjadi benar dua-duanya mencerminkan lagi betapa sakitnya cara berpikir perpolitikan kita. Bagaimana mungkin ada opsi untuk menerima kejahatan dan kebenaran sebagai hal yang sama baiknya? Mana boleh para elite dan orang-orang terpandang di DPR tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar? Padahal mereka berteriak lantang bahwa salah satu tugas fundamental Pansus Angket Century adalah menemukan yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar? Mufakat dan musyawarah akan menjadi penyumbat yang menyulitkan ketika para politikus tidak cerdas dan cekatan berkomunikasi dan berargumentasi. Musyawarah dan mufakat akhirnya kita jadikan sebagai diktator yang mengharamkan voting. Padahal voting diatur dalam undang-undang. Marzuki Alie kelihatan memikul beban berat untuk memenangkan salah satu opsi. Karena dia dari Partai Demokrat, opsi yang dibela tentu opsi A. Tetapi, yang jauh lebih konyol adalah menghadirkan opsi AC. (MI/Tam/editorial-04-03-2010)

Pasang Iklan Di sini

untuk memasang, iklan silakan kontak email kami melalui Telp:021-28727980 atau email: redaksi@sekilasindonesia.com