« Previous Entries

Arsip bulan January, 2010

Williardi Tegaskan Ada Konspirasi untuk Antasari

Thursday, January 28th, 2010 | kategori: HUKUM | No Comments »

sekilasindonesia.com-Dalam nota pembelaan Williardi Wizard disebutkan adanya suatu konspirasi untuk menjadikan Antasari sebagai target.

( Baca Selengkapnya )

Ribuan Pendemo Mulai Padati Kawasan Istana, Bndaran HI, Dan Ribuan Pengunjuk Rasa Blokir Jalan di Depan Gedung DPR

Thursday, January 28th, 2010 | kategori: POLITIK | No Comments »

sekilasindonesia.com - Ribuan orang peserta unjuk rasa, Kamis (28/1/2010), mulai memadati kawasan depan Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.
   
Sebagian massa nampak sudah berada di jalan depan Istana Merdeka dan sebagian lainnya masih berada di Jalan Medan Merdeka Barat di depan Kantor Menko Kesra dan Gedung Radio Republik Indonesia (RRI).

( Baca Selengkapnya )

Warga Warakas Heboh, Ada Orang Mati Hidup Lagi

Thursday, January 28th, 2010 | kategori: PERISTIWA | No Comments »

sekilasindonesia.com - Warga Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, dihebohkan dengan kabar hidupnya kembali anak muda yang telah tewas. Salim, anak keterbelakang mental yang tewas dua tahun lalu dipercaya warga hidup kembali.

( Baca Selengkapnya )

Politisi Golkar Ingatkan SBY Mengenai Pemerintahan Thaksin

Wednesday, January 27th, 2010 | kategori: INTERNASIONAL | No Comments »

sekilasindonesia.com- Politisi Golkar Jeffrie Geovanie menyatakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono wajar dinilai tidak memuaskan seperti ditemukan survei Lembaga Survei Indonesia. SBY-Boediono, menurut Jeffrie, gagal melakukan komunikasi di tingkat elite dan menengah.

( Baca Selengkapnya )

Presiden Diminta Tidak Lindungi yang Bersalah Dalam Kasus Bank Century

Wednesday, January 27th, 2010 | kategori: HUKUM | No Comments »

sekilasindonesia.com- Wakil Ketua DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono nantinya tidak melindungi mereka yang secara hukum terbukti bersalah. Hal itu disampaikannya oleh Anis Matta di Gedung DPR Jakarta, Rabu (27/1).

( Baca Selengkapnya )

26 Persen Lahan NTB Kritis, Pemda Setempat Terus Berupaya Lakukan Rehabilitasi Hutan

Wednesday, January 27th, 2010 | kategori: DAERAH | No Comments »

sekilasindonesia.com- Hingga tahun 2009, sebanyak 507.000 hektar lahan atau 26 persen dari seluruh daratan di Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami kerusakan. Sebanyak 13 persen kerusakan terjadi di dalam hutan dan sisanya di luar hutan.

( Baca Selengkapnya )

Kontroversi Dana “Bail Out” Diusulkan Minta Fatwa MA

Tuesday, January 26th, 2010 | kategori: HUKUM | No Comments »

sekilasindonesia.com - Salah satu hal yang diperdebatkan dalam pemeriksaan sejumlah saksi di Pansus Angket Kasus Bank Century adalah mengenai status dana  bail out yang dikeluarkan Lembaga Penjamin Simpanan, termasuk keuangan negara atau bukan.

( Baca Selengkapnya )

Kasus Bank Century, Patrialis Surati Arab Saudi & Inggris Minta Hesham-Rafat Diekstradisi

Tuesday, January 26th, 2010 | kategori: Uncategorized | No Comments »

sekilasindonesia.com - Menkum HAM Patrialis Akbar telah mengirim surat kepada Arab Saudi dan Inggris untul meminta buron tersangka kasus Bank Century, Hesham Al Warraq dan Rafat Ali Rizvi, diekstradisi.

( Baca Selengkapnya )

« Arsip Sebelumnya

SAMPAIKAN TULISAN ANDA DAN INFORMASI DILINGKUNGAN ANDA MELALUI SMS KE 081386777289 EMAIL- redaksi@sekilasindonesia.com.


TK

TAUFIK KIEMAS KETUA MPR RI

irman

IRMAN GUSMAN KETUA DPD RI


baner_kanan_tengah
  • Komentar Anda

Sidang Paripurna DPR yang Alot

SIDANG Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tentang keputusan akhir angket kasus Century menjadi sangat ribet. Ada peraturan tentang rapat, ada formula tentang keputusan, ada opsi voting, tetapi pilihan yang tersedia itu seakan buntu. Yang membuat ribet adalah lobi yang dengan bangga dikatakan sebagai bagian vital dari perpolitikan di mana pun. Lobi yang sesungguhnya dimaksud untuk memperlancar keputusan dipakai sedemikian rupa sehingga menyumbat kesimpulan. Itu yang terjadi dua hari Sidang Paripurna DPR tentang angket Century. Mekanisme persidangan di bawah kepemimpinan Ketua DPR Marzuki Alie berjalan dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain. Ekstrem pertama adalah diktator palu yang harus dijatuhkan Marzuki untuk menghentikan banjir interupsi. Sidang pun dibikin supercepat sehingga selesai hanya dalam setengah hari. Ekstrem kedua, kemarin, Marzuki Alie tidak bisa mengendalikan interupsi anggota yang berlangsung hampir 2 jam. Puncaknya adalah ketika lobi memacetkan persidangan sampai jauh malam. Lobi bukannya menyehatkan, melainkan mematikan akal sehat. Sesungguhnya sidang paripurna tidak perlu menjadi ribet. Pansus telah merumuskan dua formula untuk dipilih oleh fraksi-fraksi. Dalam pandangan akhir fraksi jelas sekali terlihat bahwa fraksi yang memilih opsi C, yaitu kebijakan bailout Century terindikasi kuat bermasalah atau melanggar hukum, memenanginya. Pilihan A, yang menganggap bailout Century adalah kebijakan yang benar, kalah. Namun, aneh sekali sesuatu yang sudah jelas dan mengerucut itu harus dibawa lagi ke lobi untuk dimusyawarahkan. Menjadi semakin aneh dan tambah rumit ketika dalam forum lobi muncul lagi opsi untuk menerima bahwa opsi A dan C sama-sama benar dengan formula AC. Menggabungkan opsi A dan C yang salah dan benar menjadi benar dua-duanya mencerminkan lagi betapa sakitnya cara berpikir perpolitikan kita. Bagaimana mungkin ada opsi untuk menerima kejahatan dan kebenaran sebagai hal yang sama baiknya? Mana boleh para elite dan orang-orang terpandang di DPR tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar? Padahal mereka berteriak lantang bahwa salah satu tugas fundamental Pansus Angket Century adalah menemukan yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar? Mufakat dan musyawarah akan menjadi penyumbat yang menyulitkan ketika para politikus tidak cerdas dan cekatan berkomunikasi dan berargumentasi. Musyawarah dan mufakat akhirnya kita jadikan sebagai diktator yang mengharamkan voting. Padahal voting diatur dalam undang-undang. Marzuki Alie kelihatan memikul beban berat untuk memenangkan salah satu opsi. Karena dia dari Partai Demokrat, opsi yang dibela tentu opsi A. Tetapi, yang jauh lebih konyol adalah menghadirkan opsi AC. (MI/Tam/editorial-04-03-2010)

Pasang Iklan Di sini

untuk memasang, iklan silakan kontak email kami melalui Telp:021-28727980 atau email: redaksi@sekilasindonesia.com