« Gempa Kembali Guncang Padang Dengan Berkekuatan 4,8 SR || PKS Akan Buka 10 Dugaan Pidana Century, dan Golkar Tegaskan 7 Tindak Pidana di Century »

4 Wanita Tanpa Penutup Dada Protes Pilpres di Ukraina

February 8, 2010

sekilasindonesia.com- Empat perempuan muda yang tidak mengenakan busana dari pinggang ke atas menyerobot masuk ke tempat pemungutan suara di kota Kiev Ukraina tepat sebelum seorang calon dalam pemilihan presiden Ukraina memberikan suaranya, Minggu (7/2).

Keempat perempuan yang merupakan anggota kelompok kecil feminis yang disebut Femen itu melakukan aksinya sebagai bentuk protes akan hancurnya demokrasi di Ukraina. Keempatnya langung digiring ke luar tempat pemungutan suara oleh penjaga keamanan sebelum salah satu calon Presdien Viktor Yanikovich muncul untuk memberi suara.

“Cukup sudah kalian memperkosa demokrasi kami!” demikian teriakan pemrotes itu, yang memegang tanda yang berisi slogan seperti “Tolong! Perkosaan!” dan hanya memakai celana jeans dan secarik pita untuk menutup payudara mereka.

Keempat perempuan tersebut mengatakan kepada wartawan bahwa mereka memprotes “berakhirnya demokrasi” di Ukraina dan tidak secara khusus terhadap Yanikovich atau mendukung pesaingnya, Perdana Menteri Yulia Tymoshenko.

Mereka ditahan dan didakwa melanggar hukum mengenai protes terbuka, pelanggaran administratif yang pelakunya dapat didenda, kata Kepala Departemen Keamanan Kementerian Dalam Negeri Ukraina, Volodymyr Mayevski . “Karena para pegiat itu tak mengajukan permohonan bagi protes tersebut dan mencampuri pekerjaan komisi pemilihan umum, mereka ditahan dan dibawa ke satu kantor polisi di ibukota,” kata Mayevski.

Protes tersebut dilancarkan setelah kampanye pemilihan umum yang berlangsung sengit dan membuat banyak warga Ukraina kecewa dengan para calon, di tengah kekecewaan terhadap kebuntuan politik dan krisis ekonomi yang berlarut di negeri itu.

Femen, yang kebanyakan anggotanya adalah mahasiswi, menarik perhatian internasional musim panas lalu dengan menyelenggarakan protes terhadap perdagangan pariwisata seks di Ukraina. Para pegiat berjaga di bagian tengah Kiev dengan hanya memakai BH dan celana pendek.(Ant/MI/Tammo)


ditulis pada Monday, February 8th, 2010 waktu 11:50 am kategori : INTERNASIONAL. RSS 2.0 komentar

Tidak ada Komentar »

Belum ada komentar

RSS feed untuk berita ini TrackBack URI

Silakan Mengisi Komentar

Spam protection by WP Captcha-Free

SAMPAIKAN TULISAN ANDA DAN INFORMASI DILINGKUNGAN ANDA MELALUI SMS KE 081386777289 EMAIL- redaksi@sekilasindonesia.com.


TK

TAUFIK KIEMAS KETUA MPR RI

irman

IRMAN GUSMAN KETUA DPD RI


baner_kanan_tengah
  • Komentar Anda

Sidang Paripurna DPR yang Alot

SIDANG Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tentang keputusan akhir angket kasus Century menjadi sangat ribet. Ada peraturan tentang rapat, ada formula tentang keputusan, ada opsi voting, tetapi pilihan yang tersedia itu seakan buntu. Yang membuat ribet adalah lobi yang dengan bangga dikatakan sebagai bagian vital dari perpolitikan di mana pun. Lobi yang sesungguhnya dimaksud untuk memperlancar keputusan dipakai sedemikian rupa sehingga menyumbat kesimpulan. Itu yang terjadi dua hari Sidang Paripurna DPR tentang angket Century. Mekanisme persidangan di bawah kepemimpinan Ketua DPR Marzuki Alie berjalan dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain. Ekstrem pertama adalah diktator palu yang harus dijatuhkan Marzuki untuk menghentikan banjir interupsi. Sidang pun dibikin supercepat sehingga selesai hanya dalam setengah hari. Ekstrem kedua, kemarin, Marzuki Alie tidak bisa mengendalikan interupsi anggota yang berlangsung hampir 2 jam. Puncaknya adalah ketika lobi memacetkan persidangan sampai jauh malam. Lobi bukannya menyehatkan, melainkan mematikan akal sehat. Sesungguhnya sidang paripurna tidak perlu menjadi ribet. Pansus telah merumuskan dua formula untuk dipilih oleh fraksi-fraksi. Dalam pandangan akhir fraksi jelas sekali terlihat bahwa fraksi yang memilih opsi C, yaitu kebijakan bailout Century terindikasi kuat bermasalah atau melanggar hukum, memenanginya. Pilihan A, yang menganggap bailout Century adalah kebijakan yang benar, kalah. Namun, aneh sekali sesuatu yang sudah jelas dan mengerucut itu harus dibawa lagi ke lobi untuk dimusyawarahkan. Menjadi semakin aneh dan tambah rumit ketika dalam forum lobi muncul lagi opsi untuk menerima bahwa opsi A dan C sama-sama benar dengan formula AC. Menggabungkan opsi A dan C yang salah dan benar menjadi benar dua-duanya mencerminkan lagi betapa sakitnya cara berpikir perpolitikan kita. Bagaimana mungkin ada opsi untuk menerima kejahatan dan kebenaran sebagai hal yang sama baiknya? Mana boleh para elite dan orang-orang terpandang di DPR tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar? Padahal mereka berteriak lantang bahwa salah satu tugas fundamental Pansus Angket Century adalah menemukan yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar? Mufakat dan musyawarah akan menjadi penyumbat yang menyulitkan ketika para politikus tidak cerdas dan cekatan berkomunikasi dan berargumentasi. Musyawarah dan mufakat akhirnya kita jadikan sebagai diktator yang mengharamkan voting. Padahal voting diatur dalam undang-undang. Marzuki Alie kelihatan memikul beban berat untuk memenangkan salah satu opsi. Karena dia dari Partai Demokrat, opsi yang dibela tentu opsi A. Tetapi, yang jauh lebih konyol adalah menghadirkan opsi AC. (MI/Tam/editorial-04-03-2010)

Pasang Iklan Di sini

untuk memasang, iklan silakan kontak email kami melalui Telp:021-28727980 atau email: redaksi@sekilasindonesia.com