« Rekaman Rapat BI 13 November, Kisah Menangisnya Siti Fadjrijah (2) || Gempa Kembali Guncang Padang Dengan Berkekuatan 4,8 SR »

SBY Produk Lapisan BLT Dan Tak Paham Makna Budaya Kerbau kata Thamrin Amal Tamagola sosiolog UI

February 5, 2010

sekilasindonesia.com- Dalam dialog interaktif di gedung DPD hari ini (Jumat, 5/2) sosiolog UI Thamrin Amal Tamagola menyatakan bahwa analisa piskologi bangsa ini sudah salah dalam memilih pemimpin.
Dalam dialog dengan tema “Krisis Kepemimpinan Nasional dan Maraknya Kelompok Kepentingan” ini, Thamrin menegaskan bahwa pilihan pemimpin sekarang ini adalah produk lapisan masyarakat Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Dan itu adalah kinerja dari Jusuf Kalla. Tetapi, SBY lah yang mengambil keuntungan.

“Jadi SBY mengambil keuntungan dari apa yang tidak ia kerjakan. Lain kali pilih pemimpin cermati dulu. Psikologi pemimpin harus dicermati secara profesional,” ujar Thamrin.

Presiden SBY juga dinilai luput memahami makna berbeda di balik kerbau. Hewan memiliki makna budaya yang berbeda pada sub budaya yang berbeda.

Demikian dikatakan oleh sosiolog Universitas Indonesia Thamrin Amal Tamagola dalam dialog interaktif dengan tema “Krisis Kepemimpinan Nasional dan Maraknya Kelompok Kepentingan” di gedung DPD RI

Thamrin mencontohkan sapi di India yang disakralkan. Sedang kerbau di Indonesia sangat diapresiasi oleh petani karena sumbangan tenaganya. Di kelas menengah lain, karena sering menggunakan otak, yang dinilai adalah otak.

“Kalau dibilang kerbau artinya goblok, tidak berotak. Itu perbedaan yang alami,” ujar Thamrin.

Menurut Thamrin, jangan melihat dan memahami simbol kerbau secara eksak. Tapi bagaimana melihat makna  budaya di balik itu.

“Dan SBY tidak mampu melihat makna budaya di balik itu,” tegas Thamrin.  (Rm/Tm)


ditulis pada Friday, February 5th, 2010 waktu 12:30 pm kategori : POLITIK. RSS 2.0 komentar

Tidak ada Komentar »

Belum ada komentar

RSS feed untuk berita ini TrackBack URI

Silakan Mengisi Komentar

Spam protection by WP Captcha-Free

SAMPAIKAN TULISAN ANDA DAN INFORMASI DILINGKUNGAN ANDA MELALUI SMS KE 081386777289 EMAIL- redaksi@sekilasindonesia.com.


TK

TAUFIK KIEMAS KETUA MPR RI

irman

IRMAN GUSMAN KETUA DPD RI


baner_kanan_tengah
  • Komentar Anda

Sidang Paripurna DPR yang Alot

SIDANG Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tentang keputusan akhir angket kasus Century menjadi sangat ribet. Ada peraturan tentang rapat, ada formula tentang keputusan, ada opsi voting, tetapi pilihan yang tersedia itu seakan buntu. Yang membuat ribet adalah lobi yang dengan bangga dikatakan sebagai bagian vital dari perpolitikan di mana pun. Lobi yang sesungguhnya dimaksud untuk memperlancar keputusan dipakai sedemikian rupa sehingga menyumbat kesimpulan. Itu yang terjadi dua hari Sidang Paripurna DPR tentang angket Century. Mekanisme persidangan di bawah kepemimpinan Ketua DPR Marzuki Alie berjalan dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain. Ekstrem pertama adalah diktator palu yang harus dijatuhkan Marzuki untuk menghentikan banjir interupsi. Sidang pun dibikin supercepat sehingga selesai hanya dalam setengah hari. Ekstrem kedua, kemarin, Marzuki Alie tidak bisa mengendalikan interupsi anggota yang berlangsung hampir 2 jam. Puncaknya adalah ketika lobi memacetkan persidangan sampai jauh malam. Lobi bukannya menyehatkan, melainkan mematikan akal sehat. Sesungguhnya sidang paripurna tidak perlu menjadi ribet. Pansus telah merumuskan dua formula untuk dipilih oleh fraksi-fraksi. Dalam pandangan akhir fraksi jelas sekali terlihat bahwa fraksi yang memilih opsi C, yaitu kebijakan bailout Century terindikasi kuat bermasalah atau melanggar hukum, memenanginya. Pilihan A, yang menganggap bailout Century adalah kebijakan yang benar, kalah. Namun, aneh sekali sesuatu yang sudah jelas dan mengerucut itu harus dibawa lagi ke lobi untuk dimusyawarahkan. Menjadi semakin aneh dan tambah rumit ketika dalam forum lobi muncul lagi opsi untuk menerima bahwa opsi A dan C sama-sama benar dengan formula AC. Menggabungkan opsi A dan C yang salah dan benar menjadi benar dua-duanya mencerminkan lagi betapa sakitnya cara berpikir perpolitikan kita. Bagaimana mungkin ada opsi untuk menerima kejahatan dan kebenaran sebagai hal yang sama baiknya? Mana boleh para elite dan orang-orang terpandang di DPR tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar? Padahal mereka berteriak lantang bahwa salah satu tugas fundamental Pansus Angket Century adalah menemukan yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar? Mufakat dan musyawarah akan menjadi penyumbat yang menyulitkan ketika para politikus tidak cerdas dan cekatan berkomunikasi dan berargumentasi. Musyawarah dan mufakat akhirnya kita jadikan sebagai diktator yang mengharamkan voting. Padahal voting diatur dalam undang-undang. Marzuki Alie kelihatan memikul beban berat untuk memenangkan salah satu opsi. Karena dia dari Partai Demokrat, opsi yang dibela tentu opsi A. Tetapi, yang jauh lebih konyol adalah menghadirkan opsi AC. (MI/Tam/editorial-04-03-2010)

Pasang Iklan Di sini

untuk memasang, iklan silakan kontak email kami melalui Telp:021-28727980 atau email: redaksi@sekilasindonesia.com