« PKS Akan Buka 10 Dugaan Pidana Century, dan Golkar Tegaskan 7 Tindak Pidana di Century || Alumni Unibraw Malang Temukan Benih Padi IIRI 400 »

Tifatul Imbau Media Perkuat Karakter Bangsa

February 8, 2010

sekilasindonesia.com- Media diimbau agar membuat agenda untuk turut memperkuat karakter bangsa melalui pilihan berita atau konten yang mencerahkan para pembacanya, demikian imbauan Menkominfo Tifatul Sembiring, pada Konvensi Media Massa, Senin (8/2), di Palembang, Sumatra Selatan (Sumsel).

Konvensi tersebut diselenggarakan Persatuan Wartawan indonesia (PWI) sebagai salah satu rangkaian Hari Pers Nasional yang tahun ini diselenggarakan di Palembang. Hadir pada Konvensi tersebut Ketua Umum PWI Pusat H Margiono, Rosihan Anwar, Sabam Siagiaan, Agung Adiprasetyo, Asro Kamal Rokan, dan lebih dari 200 tokoh pers nasional dan daerah.

“Setelah kita semua menikmati kebebasan pers, mari kita renungkan, selanjutnya apa yang kita sedang perjuangkan?” Demikian pertanyaan retoris yang diajukan Menkominfo kepada para tokoh pers yang hadir. “Ada tanggung jawab kita semua untuk turut membangun sebuah masyarakat baru dan menentukan wajah Indonesia masa depan,” ujar Menkominfo.

Konvensi Media Massa bertema Masa Depan Pers Indonesia dan Pemberantasan Korupsi yang menghadirkan para pembicara Agung Adiprasetyo, Malik Sjafei, Fofo Santoso, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri. Ada juga Jaksa Agung Hendarman Supandji, Ketua KPK Tumpak Hatorangan Panggabean, Margiono, Nezar Patria, Karni Ilyas, Leo Batubara, Gubernur Sulsel Alex Noerdin, dan Staf Khusus Kepresidenan Deny Indrayana.

Puncak Hari Pers Nasional akan diselenggarakan pada tanggal 9 Februari yang akan diisi pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Lantas dilanjutkan kuliah perdana Presiden pada sekolah jurnalisme yang dirintis Dewan Pers dan PWI Pusat di Palembang. (Ant/MI/Yat)


ditulis pada Monday, February 8th, 2010 waktu 12:05 pm kategori : DAERAH. RSS 2.0 komentar

Tidak ada Komentar »

Belum ada komentar

RSS feed untuk berita ini TrackBack URI

Silakan Mengisi Komentar

Spam protection by WP Captcha-Free

SAMPAIKAN TULISAN ANDA DAN INFORMASI DILINGKUNGAN ANDA MELALUI SMS KE 081386777289 EMAIL- redaksi@sekilasindonesia.com.


TK

TAUFIK KIEMAS KETUA MPR RI

irman

IRMAN GUSMAN KETUA DPD RI


baner_kanan_tengah
  • Komentar Anda

Sidang Paripurna DPR yang Alot

SIDANG Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tentang keputusan akhir angket kasus Century menjadi sangat ribet. Ada peraturan tentang rapat, ada formula tentang keputusan, ada opsi voting, tetapi pilihan yang tersedia itu seakan buntu. Yang membuat ribet adalah lobi yang dengan bangga dikatakan sebagai bagian vital dari perpolitikan di mana pun. Lobi yang sesungguhnya dimaksud untuk memperlancar keputusan dipakai sedemikian rupa sehingga menyumbat kesimpulan. Itu yang terjadi dua hari Sidang Paripurna DPR tentang angket Century. Mekanisme persidangan di bawah kepemimpinan Ketua DPR Marzuki Alie berjalan dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain. Ekstrem pertama adalah diktator palu yang harus dijatuhkan Marzuki untuk menghentikan banjir interupsi. Sidang pun dibikin supercepat sehingga selesai hanya dalam setengah hari. Ekstrem kedua, kemarin, Marzuki Alie tidak bisa mengendalikan interupsi anggota yang berlangsung hampir 2 jam. Puncaknya adalah ketika lobi memacetkan persidangan sampai jauh malam. Lobi bukannya menyehatkan, melainkan mematikan akal sehat. Sesungguhnya sidang paripurna tidak perlu menjadi ribet. Pansus telah merumuskan dua formula untuk dipilih oleh fraksi-fraksi. Dalam pandangan akhir fraksi jelas sekali terlihat bahwa fraksi yang memilih opsi C, yaitu kebijakan bailout Century terindikasi kuat bermasalah atau melanggar hukum, memenanginya. Pilihan A, yang menganggap bailout Century adalah kebijakan yang benar, kalah. Namun, aneh sekali sesuatu yang sudah jelas dan mengerucut itu harus dibawa lagi ke lobi untuk dimusyawarahkan. Menjadi semakin aneh dan tambah rumit ketika dalam forum lobi muncul lagi opsi untuk menerima bahwa opsi A dan C sama-sama benar dengan formula AC. Menggabungkan opsi A dan C yang salah dan benar menjadi benar dua-duanya mencerminkan lagi betapa sakitnya cara berpikir perpolitikan kita. Bagaimana mungkin ada opsi untuk menerima kejahatan dan kebenaran sebagai hal yang sama baiknya? Mana boleh para elite dan orang-orang terpandang di DPR tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar? Padahal mereka berteriak lantang bahwa salah satu tugas fundamental Pansus Angket Century adalah menemukan yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar? Mufakat dan musyawarah akan menjadi penyumbat yang menyulitkan ketika para politikus tidak cerdas dan cekatan berkomunikasi dan berargumentasi. Musyawarah dan mufakat akhirnya kita jadikan sebagai diktator yang mengharamkan voting. Padahal voting diatur dalam undang-undang. Marzuki Alie kelihatan memikul beban berat untuk memenangkan salah satu opsi. Karena dia dari Partai Demokrat, opsi yang dibela tentu opsi A. Tetapi, yang jauh lebih konyol adalah menghadirkan opsi AC. (MI/Tam/editorial-04-03-2010)

Pasang Iklan Di sini

untuk memasang, iklan silakan kontak email kami melalui Telp:021-28727980 atau email: redaksi@sekilasindonesia.com