« Previous Entries

Arsip untuk kategori 'EKONOMI'

PERC: Indonesia Paling Korup di Asia

Monday, March 8th, 2010 | kategori: EKONOMI | No Comments »

sekilasindonesia.com -Indonesia salah satu bintang emerging markets tahun lalu ternyata merupakan negara paling korup dari 16 negara Asia Pasifik yang menjadi tujuan investasi pada pelaku bisnis. Ini adalah hasil survei pelaku bisnis yang dirilis Senin, 8 Maret 2010 oleh perusahaan konsultan “Political & Economic Risk Consultancy” (PERC) yang berbasis di Hong Kong.

( Baca Selengkapnya )

Ribuan Warga Bengkulu Tuntut Ganti Rugi PLTA

Saturday, February 27th, 2010 | kategori: DAERAH, EKONOMI | No Comments »

sekilasindonesia.com-Ribuan warga dari sekitar 1.229 kepala keluarga (KK) di Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, menuntut ganti rugi lahan mereka kepada Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Musi di Kabupaten Kepahiang, karena daerahnya terendam air saat beban puncak.

( Baca Selengkapnya )

Harga Minyak di Perdagangan Asia Menguat

Thursday, February 25th, 2010 | kategori: EKONOMI | No Comments »

sekilasindonesia.com- Harga minyak menguat kembali mencapai di atas US$80 per barel di perdagangan Asia, Kamis (25/2). Hal ini dipicu melemahnya dolar AS dan sedikitnya harapan untuk pemulihan ekonomi global.

( Baca Selengkapnya )

Batas Impor Gula Ditetapkan sampai 15 April 2010

Friday, February 19th, 2010 | kategori: EKONOMI | No Comments »

sekilasindonesia.com- Wakil Menteri Pertanian yang juga Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan, Bayu Krisnamurti, menegaskan bahwa batas impor gula tetap sampai 15 April mendatang. Setelah tanggal itu, impor gula dihentikan walaupun impor belum mencapai kuota.

( Baca Selengkapnya )

Eksplorasi Migas Tak Perlu Sanksi Pidana

Thursday, February 18th, 2010 | kategori: EKONOMI | No Comments »

Kepala BP Migas R Priyono
sekilasindonesia.com- Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) meminta Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP), terkait biaya pergantian eksplorasi minyak dan gas (cost recovery) tidak mengatur sanksi pidana bagi Kontraktor Kontrak Kerjasama Minyak dan Gas (KKKS).

( Baca Selengkapnya )

Hubungan Industrial Pengusaha dan Buruh Memburuk

Wednesday, February 17th, 2010 | kategori: EKONOMI | No Comments »

sekilasindonesia.com-Pemerintah menyatakan, kasus-kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi belakangan ini tidak terkait dengan perdagangan bebas Asean-China (ACFTA). Kasus PHK belakangan lebih disebabkan murni hubungan industrial dan alasan sangkut paut pola rekrutmen dan pola kerja.

( Baca Selengkapnya )

Makassar Akan Jadi Pelabuhan Internasional RI

Wednesday, February 17th, 2010 | kategori: EKONOMI | No Comments »

sekilasindonesia.com-Pemerintah tengah menyiapkan dua pelabuhan pengumpul internasional (international hub port), masing-masing di kawasan timur dan barat Indonesia, dalam konsep cetak biru logistik nasional.

( Baca Selengkapnya )

Tarif PSK Batam Bakal Kena Pajak 10 Persen

Tuesday, February 16th, 2010 | kategori: EKONOMI | No Comments »

sekilasindonesia.com-DPRD Kota Batam menilai pajak 10% yang akan dikenakan kepada pekerja seks komersial (PSK) bisa mengurangi penyebaran penyakit berbahaya seperti AIDS di Batam. Sebab dengan begitu para lelaki hidung belang berpikir dua kali untuk berkencan.

( Baca Selengkapnya )

« Arsip Sebelumnya

SAMPAIKAN TULISAN ANDA DAN INFORMASI DILINGKUNGAN ANDA MELALUI SMS KE 081386777289 EMAIL- redaksi@sekilasindonesia.com.


TK

TAUFIK KIEMAS KETUA MPR RI

irman

IRMAN GUSMAN KETUA DPD RI


baner_kanan_tengah
  • Komentar Anda

Sidang Paripurna DPR yang Alot

SIDANG Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tentang keputusan akhir angket kasus Century menjadi sangat ribet. Ada peraturan tentang rapat, ada formula tentang keputusan, ada opsi voting, tetapi pilihan yang tersedia itu seakan buntu. Yang membuat ribet adalah lobi yang dengan bangga dikatakan sebagai bagian vital dari perpolitikan di mana pun. Lobi yang sesungguhnya dimaksud untuk memperlancar keputusan dipakai sedemikian rupa sehingga menyumbat kesimpulan. Itu yang terjadi dua hari Sidang Paripurna DPR tentang angket Century. Mekanisme persidangan di bawah kepemimpinan Ketua DPR Marzuki Alie berjalan dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain. Ekstrem pertama adalah diktator palu yang harus dijatuhkan Marzuki untuk menghentikan banjir interupsi. Sidang pun dibikin supercepat sehingga selesai hanya dalam setengah hari. Ekstrem kedua, kemarin, Marzuki Alie tidak bisa mengendalikan interupsi anggota yang berlangsung hampir 2 jam. Puncaknya adalah ketika lobi memacetkan persidangan sampai jauh malam. Lobi bukannya menyehatkan, melainkan mematikan akal sehat. Sesungguhnya sidang paripurna tidak perlu menjadi ribet. Pansus telah merumuskan dua formula untuk dipilih oleh fraksi-fraksi. Dalam pandangan akhir fraksi jelas sekali terlihat bahwa fraksi yang memilih opsi C, yaitu kebijakan bailout Century terindikasi kuat bermasalah atau melanggar hukum, memenanginya. Pilihan A, yang menganggap bailout Century adalah kebijakan yang benar, kalah. Namun, aneh sekali sesuatu yang sudah jelas dan mengerucut itu harus dibawa lagi ke lobi untuk dimusyawarahkan. Menjadi semakin aneh dan tambah rumit ketika dalam forum lobi muncul lagi opsi untuk menerima bahwa opsi A dan C sama-sama benar dengan formula AC. Menggabungkan opsi A dan C yang salah dan benar menjadi benar dua-duanya mencerminkan lagi betapa sakitnya cara berpikir perpolitikan kita. Bagaimana mungkin ada opsi untuk menerima kejahatan dan kebenaran sebagai hal yang sama baiknya? Mana boleh para elite dan orang-orang terpandang di DPR tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar? Padahal mereka berteriak lantang bahwa salah satu tugas fundamental Pansus Angket Century adalah menemukan yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar? Mufakat dan musyawarah akan menjadi penyumbat yang menyulitkan ketika para politikus tidak cerdas dan cekatan berkomunikasi dan berargumentasi. Musyawarah dan mufakat akhirnya kita jadikan sebagai diktator yang mengharamkan voting. Padahal voting diatur dalam undang-undang. Marzuki Alie kelihatan memikul beban berat untuk memenangkan salah satu opsi. Karena dia dari Partai Demokrat, opsi yang dibela tentu opsi A. Tetapi, yang jauh lebih konyol adalah menghadirkan opsi AC. (MI/Tam/editorial-04-03-2010)

Pasang Iklan Di sini

untuk memasang, iklan silakan kontak email kami melalui Telp:021-28727980 atau email: redaksi@sekilasindonesia.com