« Previous Entries

Arsip untuk kategori 'SEJARAH'

Presiden SBY Sebut Kematian Dulmatin sebagai Kabar Gembira di Australia

Wednesday, March 10th, 2010 | kategori: SEJARAH | No Comments »

sekilasindonesia.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah memastikan bahwa teroris yang tewas dalam penyergapan yang dilangsungkan oleh satuan khusus antiteror Polri, Densus 88, di Pamulang, kemarin, sebagai Dulmatin. SBY, yang berada dalam kunjungan tiga hari di Australia, menjelaskan, serangan yang dilancarkan terhadap teroris yang bersembunyi di wilayah pinggiran ibu kota Jakarta itu telah berujung ke tewasnya seorang pria yang dianggap bertanggung jawab di balik tragedi bom Bali pada 2002.

( Baca Selengkapnya )

Dugaan Suap Pemilihan Miranda S Gultom, Daftar Anggota DPR Penerima Cek Suap

Monday, March 8th, 2010 | kategori: SEJARAH | No Comments »

sekilasindonesia.com - Jaksa Penuntut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membongkar nama-nama yang diduga menerima cek perjalanan (traveller cheque) saat pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI). Semua penerima di daftar jaksa berasal dari fraksi Partai Demokrasi Indonesia (PDIP) periode 1999-2004.

( Baca Selengkapnya )

‘Kakak’ Obama yang Tak Pernah Diaku

Saturday, February 27th, 2010 | kategori: SEJARAH | No Comments »

sekilasindonesia.com-Lia Soetoro namanya sempat mencuat setelah Barack Obama memenangi pemilihan umum Amerika Serikat. Rumahnya pun langsung ramai wartawan.

( Baca Selengkapnya )

Din Syamsuddin: Nikah Siri Tak Usah Dilarang, Anang Katakan Nikah Siri itu Halal

Wednesday, February 17th, 2010 | kategori: HUKUM, SEJARAH | No Comments »

sekilasindonesia.com-Rancangan Undang-Undang nikah siri yang mengancam akan mengenakan sanksi terhadap pelakunya menuai kontroversi. Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menjelaskan, nikah siri tidak perlu dilarang.hal tersebut diungkapkan Din seusai acara seminar nasional “Menjelang muktamar ke-46 dan seabad Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah, Jalan KH Ahmad Dahlan, Cirendeu, Tangerang, Rabu (17/2/2010).

( Baca Selengkapnya )

Pembunuhan Nasrudin, Tuntutan Hukuman Mati kepada Sigid Tidak Adil

Tuesday, January 26th, 2010 | kategori: SEJARAH | No Comments »

sekilasindonesia.com-Tim penasehat hukum terdakwa kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnain, Sigid Haryo Wibisono menilai tuntutan hukuman mati yang diajukan Jaksa penuntut umum (JPU) sangat tidak adil. Pasalnya, tuntutan itu didasari pembuktian yang imajinatif dan manipulatif.

( Baca Selengkapnya )

KPK Kembali Periksa Anggodo

Monday, January 18th, 2010 | kategori: SEJARAH | No Comments »

sekilasindonesia.com- Tersangka kasus percobaan suap Anggodo Widjojo diperiksa kembali Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Anggodo hanya tersenyum saat ditanya apakah mendapat fasilitas mewah di Rutan Cipinang, Jakarta Timur.

( Baca Selengkapnya )

DPR Masih Mempertimbangkan Mekanisme Gelar Pahlawan Gus Dur

Monday, January 4th, 2010 | kategori: SEJARAH | No Comments »

sekilasindonesia.com - Ketua DPR Marzuki Alie menilai Abdurrahman Wahid merupakan sosok yang tidak tergantikan. Karena itu, jika mayoritas masyarakat menghendaki pemberian gelar Pahlawan Nasional, pihaknya akan mempertimbangkan mekanismenya.

( Baca Selengkapnya )

Museum MPR Akan Dibangun di Bandung

Tuesday, September 29th, 2009 | kategori: SEJARAH | No Comments »

sekilasindonesia.com – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Hidayat Nur Wahid, menyampaikan gagasan untuk membangun museum arsip MPR di Bandung, Selasa 29 September 2009. Tujuannya melestarikan nilai sejarah MPR.

( Baca Selengkapnya )

« Arsip Sebelumnya

SAMPAIKAN TULISAN ANDA DAN INFORMASI DILINGKUNGAN ANDA MELALUI SMS KE 081386777289 EMAIL- redaksi@sekilasindonesia.com.


TK

TAUFIK KIEMAS KETUA MPR RI

irman

IRMAN GUSMAN KETUA DPD RI


baner_kanan_tengah
  • Komentar Anda

Sidang Paripurna DPR yang Alot

SIDANG Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tentang keputusan akhir angket kasus Century menjadi sangat ribet. Ada peraturan tentang rapat, ada formula tentang keputusan, ada opsi voting, tetapi pilihan yang tersedia itu seakan buntu. Yang membuat ribet adalah lobi yang dengan bangga dikatakan sebagai bagian vital dari perpolitikan di mana pun. Lobi yang sesungguhnya dimaksud untuk memperlancar keputusan dipakai sedemikian rupa sehingga menyumbat kesimpulan. Itu yang terjadi dua hari Sidang Paripurna DPR tentang angket Century. Mekanisme persidangan di bawah kepemimpinan Ketua DPR Marzuki Alie berjalan dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain. Ekstrem pertama adalah diktator palu yang harus dijatuhkan Marzuki untuk menghentikan banjir interupsi. Sidang pun dibikin supercepat sehingga selesai hanya dalam setengah hari. Ekstrem kedua, kemarin, Marzuki Alie tidak bisa mengendalikan interupsi anggota yang berlangsung hampir 2 jam. Puncaknya adalah ketika lobi memacetkan persidangan sampai jauh malam. Lobi bukannya menyehatkan, melainkan mematikan akal sehat. Sesungguhnya sidang paripurna tidak perlu menjadi ribet. Pansus telah merumuskan dua formula untuk dipilih oleh fraksi-fraksi. Dalam pandangan akhir fraksi jelas sekali terlihat bahwa fraksi yang memilih opsi C, yaitu kebijakan bailout Century terindikasi kuat bermasalah atau melanggar hukum, memenanginya. Pilihan A, yang menganggap bailout Century adalah kebijakan yang benar, kalah. Namun, aneh sekali sesuatu yang sudah jelas dan mengerucut itu harus dibawa lagi ke lobi untuk dimusyawarahkan. Menjadi semakin aneh dan tambah rumit ketika dalam forum lobi muncul lagi opsi untuk menerima bahwa opsi A dan C sama-sama benar dengan formula AC. Menggabungkan opsi A dan C yang salah dan benar menjadi benar dua-duanya mencerminkan lagi betapa sakitnya cara berpikir perpolitikan kita. Bagaimana mungkin ada opsi untuk menerima kejahatan dan kebenaran sebagai hal yang sama baiknya? Mana boleh para elite dan orang-orang terpandang di DPR tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar? Padahal mereka berteriak lantang bahwa salah satu tugas fundamental Pansus Angket Century adalah menemukan yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar? Mufakat dan musyawarah akan menjadi penyumbat yang menyulitkan ketika para politikus tidak cerdas dan cekatan berkomunikasi dan berargumentasi. Musyawarah dan mufakat akhirnya kita jadikan sebagai diktator yang mengharamkan voting. Padahal voting diatur dalam undang-undang. Marzuki Alie kelihatan memikul beban berat untuk memenangkan salah satu opsi. Karena dia dari Partai Demokrat, opsi yang dibela tentu opsi A. Tetapi, yang jauh lebih konyol adalah menghadirkan opsi AC. (MI/Tam/editorial-04-03-2010)

Pasang Iklan Di sini

untuk memasang, iklan silakan kontak email kami melalui Telp:021-28727980 atau email: redaksi@sekilasindonesia.com