DAFTAR RAJA YANG PERNAH MEMERINTAH DI SUMENEP

Daftar Raja yang pernah memerintah di Sumenep

Nomer Urut
1.NAMA-Aria Banyak Wedi( Aria Wiraraja )

TEMPAT KERATON-Batuputih

TAHUN-1269-1292

KETERANGAN-Otak pendiri Ker. Majapahit

2.Ario Bangah( Wiraraja )
Banasare
1292-1301

3.Ario Danurwendo( Lembu Sarenggono )
Aeng Anyar
1301-1311

4.Ario Assrapati
1311-1319

5.Panembahan Joharsari
Bluto
1319-1331

6.Panembahan Mandaraga( R. Piturut )
Keles
1331-1339

7.P. Bukabu Wotoprojo
Bukabu
1339-1348

8.P. Baragung Notoningrat
Baragung
1348-1358

9.R. Agung Rawit( Secodiningrat I )
Banasare
1358-1366

10.Tumenggung Gajah Pramono( Secodiningrat II )
Banasare
1366-1386

11.Panembahan Blongi( Aryo Pulang Jiwo )
Bolingi / Poday
1386-1399

12.Pangeran Adipoday(Ario Baribin )
Nyamplong / Poday
1399-1415

13.Pangeran Jokotole( P. Secodiningrat III )
Banasare
1415-1460
Pendiri Benteng Kalimo’okmelawan orang-orang Bali . Awang pendiri pintuGerbang Ker. Majapahit>

14.R. Wigonando( P. Secodiningrat IV )
Gapura
1460-1502

15.P. Siding Purih( P. Secodingrat V )
Parsanga
1502-1559
Patoh Takundur

16.RT. Kanduruwan
Karang Sabu
1559-1562

17.P. Wetan dan P Lor
1562-1567

18.R. Keduk ( P. Keduk II )
1567-1574

19.R. Rajasa ( P. Lor II )
1574-1589

20.R. Abdullah( P. Cokronegoro I )
Karang Toroy
1589-1626

21.P. Anggadipa
Karang Toroy
1626-1644

22.Tumenggung JaingPatih dari Sampang
Karang Toroy
1644-1648

23.R. Bugan
( Tumenggung Yudonegoro )
Karang Toroy
1648-1672

24.P.T. Pulang Jiwo dan P. Sepuh
Karang Toroy
1672-1678

25.P. Romo( P. Cokronegoro II )
Karang Toroy
1678-1709

26.RT. Wiromenggolo( Purwonegoro )
Karang Toroy
1709-1721

27.R. Ahmat alias P. Jimat
( T. Aryo Cokronegoro III )
Karang Toroy
1721-1744

28.R. Alza Alias P. Lolos
Karang Toroy
1744-1749
Lolos dalam penyergapan K. Lesap

29.K. Lesap
Karang Toroy
1749-1750
Pimpinan sementara diserahkan T. Tirtonegoro

30.R. Ayu Tirtonegoro
R. Rasmana & Bindara Saod
Pajagalan
1750-1762
Pemerintahan diserahkanpada suaminya

31.Panembahan Sumolo Asiru
Pajagalan
1762-1811
Pendiri Masjid Jamik

32.Sri Sultan Abdurrahman
( Pakunataningrat I )
Pajagalan
1811-1854
Kerajaan Sumenep

33.Panembahan Moh. Saleh( Notokusumo II )
Pajagalan
1854-1879

34.P. Mangkudiningrat( P. Pakunataningrat II )
Pajagalan
1879-1901

35.P. Ario Prataningkusumo
Pajagalan
1901-1926

36.RP. Ario Prabuwinoto
Pajagalan
1926-1929

Tammo Hidayat————–Sumber Sumenep.go.id

Tidak ada Komentar »

Belum ada komentar

RSS feed untuk berita ini TrackBack URI

Silakan Mengisi Komentar

Spam protection by WP Captcha-Free

SAMPAIKAN TULISAN ANDA DAN INFORMASI DILINGKUNGAN ANDA MELALUI SMS KE 081386777289 EMAIL- redaksi@sekilasindonesia.com.


TK

TAUFIK KIEMAS KETUA MPR RI

irman

IRMAN GUSMAN KETUA DPD RI


baner_kanan_tengah
  • Komentar Anda

Sidang Paripurna DPR yang Alot

SIDANG Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tentang keputusan akhir angket kasus Century menjadi sangat ribet. Ada peraturan tentang rapat, ada formula tentang keputusan, ada opsi voting, tetapi pilihan yang tersedia itu seakan buntu. Yang membuat ribet adalah lobi yang dengan bangga dikatakan sebagai bagian vital dari perpolitikan di mana pun. Lobi yang sesungguhnya dimaksud untuk memperlancar keputusan dipakai sedemikian rupa sehingga menyumbat kesimpulan. Itu yang terjadi dua hari Sidang Paripurna DPR tentang angket Century. Mekanisme persidangan di bawah kepemimpinan Ketua DPR Marzuki Alie berjalan dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain. Ekstrem pertama adalah diktator palu yang harus dijatuhkan Marzuki untuk menghentikan banjir interupsi. Sidang pun dibikin supercepat sehingga selesai hanya dalam setengah hari. Ekstrem kedua, kemarin, Marzuki Alie tidak bisa mengendalikan interupsi anggota yang berlangsung hampir 2 jam. Puncaknya adalah ketika lobi memacetkan persidangan sampai jauh malam. Lobi bukannya menyehatkan, melainkan mematikan akal sehat. Sesungguhnya sidang paripurna tidak perlu menjadi ribet. Pansus telah merumuskan dua formula untuk dipilih oleh fraksi-fraksi. Dalam pandangan akhir fraksi jelas sekali terlihat bahwa fraksi yang memilih opsi C, yaitu kebijakan bailout Century terindikasi kuat bermasalah atau melanggar hukum, memenanginya. Pilihan A, yang menganggap bailout Century adalah kebijakan yang benar, kalah. Namun, aneh sekali sesuatu yang sudah jelas dan mengerucut itu harus dibawa lagi ke lobi untuk dimusyawarahkan. Menjadi semakin aneh dan tambah rumit ketika dalam forum lobi muncul lagi opsi untuk menerima bahwa opsi A dan C sama-sama benar dengan formula AC. Menggabungkan opsi A dan C yang salah dan benar menjadi benar dua-duanya mencerminkan lagi betapa sakitnya cara berpikir perpolitikan kita. Bagaimana mungkin ada opsi untuk menerima kejahatan dan kebenaran sebagai hal yang sama baiknya? Mana boleh para elite dan orang-orang terpandang di DPR tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar? Padahal mereka berteriak lantang bahwa salah satu tugas fundamental Pansus Angket Century adalah menemukan yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar? Mufakat dan musyawarah akan menjadi penyumbat yang menyulitkan ketika para politikus tidak cerdas dan cekatan berkomunikasi dan berargumentasi. Musyawarah dan mufakat akhirnya kita jadikan sebagai diktator yang mengharamkan voting. Padahal voting diatur dalam undang-undang. Marzuki Alie kelihatan memikul beban berat untuk memenangkan salah satu opsi. Karena dia dari Partai Demokrat, opsi yang dibela tentu opsi A. Tetapi, yang jauh lebih konyol adalah menghadirkan opsi AC. (MI/Tam/editorial-04-03-2010)

Pasang Iklan Di sini

untuk memasang, iklan silakan kontak email kami melalui Telp:021-28727980 atau email: redaksi@sekilasindonesia.com