Pengadaan Infrastruktur Di Daerah Harus Dihirau Pemerintah

Tammo hidayat
Oleh: Tammo Hidayat (Wartawan)

Pemerintah harus hirau pengadaan infrastruktur di daerah, agar
ekonomi rakyat bangkit menuju kemakmuran.Rakyat ingin tahu apa arti 65
tahun kemerdekaan negara RI.Apa realisasi yang dicita-citakan para
pendiri negara tentang kemakmuran dan keadilan masih samar-samar.
Kegagalan pemerintah pusat menyediakan infrastruktur didaerah-daerah sejak masa Bung Karno,Soeharto, BJ Habibi, KH Abdurrahman wahid, Megawati  Soekarno Putri hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Padahal salah satu peluang warga negara mencapai peningkatan taraf ekonomi, dengan pengadaan infrastruktur yang merata dan memadai hingga keseluruh kepulauan nusantara.

Bung Karno lebih senang mengikuti emosinya, perang saudara daripada
mengerahkan TNI membangun infrastruktur jalan/jembatan (masa perlawanan, PRRI/permesta)lanjutan,Soeharto membabat jutaan hektar hutan tropis, uang negara dirampok para penipu lewat BLBI(Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) mengantarkan bangsa indonesia menjadi negara terkorup didunia dan mewariskan hutang luar negeri yang besar.

BJ Habibie dengan teknologi canggihnya, ubah Indonesia dari pengimpor
gunting kuku dan peniti,menjadi negara pengekspor pesawat
terbang, terjadilah pemborosan keuangan negara belasan tryliun Rupiah,pabrik dirgantaranyapun  bangrut, mewariskan puluhan ribu karyawan tidak gajian.

Gusdur mau ramping kabinet dan hemat negara,membubarkan Departemen Sosial dan Departeman Penerangan,belum sempat berbuat banyak Gusdur keburu jatuh oleh gerakan elit politik yang paksakan kehendak dan memperalat DPR.

Megawati Soekarno putri pun naik Tahta kekuasan,menyebar
pesona,meloloskan para penipu BLBI berlibur keluar negeri, santai-santai menikmati hasil rampokan, sementara rakyat diajak perketat ikat pinggang ( kelaparan).

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama kabinet, Gemuk, sibuk urusan bencana alam dan buatan manusia serakah(semburan lumpur panas Lapindo)Alam lagi-lagi marah.

Mantan Gubernur DKI Sutiyoso yang berhasil  bangun jalan
busway,membuat kemacetan diseputar jabotabek,konon jutaan warga ibu kotanegara terjebak genangan banjir.( Tammo Hidayat )

Tidak ada Komentar »

Belum ada komentar

RSS feed untuk berita ini TrackBack URI

Silakan Mengisi Komentar

Spam protection by WP Captcha-Free

SAMPAIKAN TULISAN ANDA DAN INFORMASI DILINGKUNGAN ANDA MELALUI SMS KE 081386777289 EMAIL- redaksi@sekilasindonesia.com.


TK

TAUFIK KIEMAS KETUA MPR RI

irman

IRMAN GUSMAN KETUA DPD RI


baner_kanan_tengah
  • Komentar Anda

Sidang Paripurna DPR yang Alot

SIDANG Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tentang keputusan akhir angket kasus Century menjadi sangat ribet. Ada peraturan tentang rapat, ada formula tentang keputusan, ada opsi voting, tetapi pilihan yang tersedia itu seakan buntu. Yang membuat ribet adalah lobi yang dengan bangga dikatakan sebagai bagian vital dari perpolitikan di mana pun. Lobi yang sesungguhnya dimaksud untuk memperlancar keputusan dipakai sedemikian rupa sehingga menyumbat kesimpulan. Itu yang terjadi dua hari Sidang Paripurna DPR tentang angket Century. Mekanisme persidangan di bawah kepemimpinan Ketua DPR Marzuki Alie berjalan dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain. Ekstrem pertama adalah diktator palu yang harus dijatuhkan Marzuki untuk menghentikan banjir interupsi. Sidang pun dibikin supercepat sehingga selesai hanya dalam setengah hari. Ekstrem kedua, kemarin, Marzuki Alie tidak bisa mengendalikan interupsi anggota yang berlangsung hampir 2 jam. Puncaknya adalah ketika lobi memacetkan persidangan sampai jauh malam. Lobi bukannya menyehatkan, melainkan mematikan akal sehat. Sesungguhnya sidang paripurna tidak perlu menjadi ribet. Pansus telah merumuskan dua formula untuk dipilih oleh fraksi-fraksi. Dalam pandangan akhir fraksi jelas sekali terlihat bahwa fraksi yang memilih opsi C, yaitu kebijakan bailout Century terindikasi kuat bermasalah atau melanggar hukum, memenanginya. Pilihan A, yang menganggap bailout Century adalah kebijakan yang benar, kalah. Namun, aneh sekali sesuatu yang sudah jelas dan mengerucut itu harus dibawa lagi ke lobi untuk dimusyawarahkan. Menjadi semakin aneh dan tambah rumit ketika dalam forum lobi muncul lagi opsi untuk menerima bahwa opsi A dan C sama-sama benar dengan formula AC. Menggabungkan opsi A dan C yang salah dan benar menjadi benar dua-duanya mencerminkan lagi betapa sakitnya cara berpikir perpolitikan kita. Bagaimana mungkin ada opsi untuk menerima kejahatan dan kebenaran sebagai hal yang sama baiknya? Mana boleh para elite dan orang-orang terpandang di DPR tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar? Padahal mereka berteriak lantang bahwa salah satu tugas fundamental Pansus Angket Century adalah menemukan yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar? Mufakat dan musyawarah akan menjadi penyumbat yang menyulitkan ketika para politikus tidak cerdas dan cekatan berkomunikasi dan berargumentasi. Musyawarah dan mufakat akhirnya kita jadikan sebagai diktator yang mengharamkan voting. Padahal voting diatur dalam undang-undang. Marzuki Alie kelihatan memikul beban berat untuk memenangkan salah satu opsi. Karena dia dari Partai Demokrat, opsi yang dibela tentu opsi A. Tetapi, yang jauh lebih konyol adalah menghadirkan opsi AC. (MI/Tam/editorial-04-03-2010)

Pasang Iklan Di sini

untuk memasang, iklan silakan kontak email kami melalui Telp:021-28727980 atau email: redaksi@sekilasindonesia.com