Apakah Anak yang Tidak Jago Matematika Bisa Masuk Teknologi Pangan?
by Admin, 15 Sep 2026
Merasa tidak jago matematika tetapi tertarik dengan jurusan Teknologi Pangan? Kekhawatiran seperti ini cukup sering muncul ketika siswa mulai menentukan pilihan kuliah. Apalagi, Teknologi Pangan termasuk bidang yang mempelajari sains dan proses pengolahan makanan, sehingga muncul anggapan bahwa mahasiswa harus memiliki kemampuan matematika yang tinggi sejak awal. Padahal, kuliah di jurusan Teknologi Pangan belajar apa saja tidak hanya berkaitan dengan hitungan, tetapi juga mencakup berbagai ilmu lain yang berhubungan dengan pangan.
Tidak Jago Matematika Bukan Berarti Tidak Bisa Masuk Teknologi Pangan
Jawabannya, bisa. Kemampuan matematika memang akan digunakan dalam beberapa bagian pembelajaran Teknologi Pangan, tetapi mahasiswa tidak harus menjadi ahli matematika untuk dapat mengikuti perkuliahan.
Pada awal kuliah, mahasiswa biasanya bertemu dengan mata kuliah dasar seperti Matematika. Materi tersebut menjadi bagian dari fondasi pembelajaran sebelum mahasiswa masuk lebih jauh ke bidang teknologi dan pengolahan pangan.
Jadi, jika nilai matematika di sekolah belum terlalu bagus, bukan berarti Teknologi Pangan otomatis menjadi jurusan yang tidak cocok. Yang lebih penting adalah memiliki kemauan untuk belajar dan memperkuat konsep dasar yang masih belum dikuasai.
Seberapa Banyak Matematika Digunakan di Teknologi Pangan?
Matematika dapat digunakan untuk membantu melakukan perhitungan yang berkaitan dengan proses pangan. Misalnya, mahasiswa dapat berhadapan dengan perhitungan komposisi bahan, konsentrasi, formulasi produk, hasil produksi, maupun pengolahan data penelitian.
Dalam praktiknya, kemampuan berhitung digunakan sebagai alat untuk memahami dan menyelesaikan persoalan di bidang pangan. Artinya, matematika yang dipelajari tidak selalu berdiri sebagai teori abstrak, tetapi dapat dikaitkan dengan kebutuhan dalam proses pengolahan dan analisis pangan.
Mahasiswa juga akan bertemu dengan ilmu lain seperti kimia, biologi, mikrobiologi, analisis pangan, teknologi pengolahan, keamanan pangan, dan pengendalian mutu. Karena itu, kemampuan matematika hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan proses pembelajaran.
Teknologi Pangan Tidak Hanya Berisi Hitungan
Salah satu kesalahpahaman yang sering membuat calon mahasiswa ragu adalah menganggap Teknologi Pangan sebagai jurusan yang penuh dengan angka. Padahal, cakupan bidang ini cukup luas.
Mahasiswa dapat mempelajari pengolahan produk pangan nabati dan hewani, ilmu pangan dan gizi, mikrobiologi, bioteknologi, pengemasan, analisis sensori, fermentasi, keamanan pangan, hingga pengembangan bisnis pangan. Setiap bidang membutuhkan kemampuan yang berbeda.
Ada mahasiswa yang mungkin lebih menikmati kegiatan praktikum dan laboratorium. Ada pula yang lebih tertarik pada pengembangan produk, pengendalian kualitas, penelitian, proses produksi, atau bisnis makanan. Matematika tetap digunakan ketika diperlukan, tetapi bukan satu-satunya kemampuan yang menentukan keberhasilan mahasiswa.
Bagaimana Jika Dasar Matematika Masih Lemah?
Jika merasa kemampuan matematika masih lemah, langkah yang paling masuk akal bukan langsung menghindari Teknologi Pangan, melainkan mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki. Konsep dasar seperti operasi hitung, pecahan, persentase, perbandingan, aljabar sederhana, dan pengolahan data dapat menjadi bekal yang berguna.
Tidak perlu langsung mempelajari materi yang rumit. Belajar secara bertahap justru lebih efektif karena mahasiswa dapat memahami konsep satu per satu sebelum menggunakannya dalam persoalan yang berkaitan dengan pangan.
Selain belajar secara mandiri, mahasiswa juga dapat bertanya kepada dosen atau berdiskusi dengan teman ketika menemukan materi yang belum dipahami. Kesulitan pada satu mata kuliah bukan berarti seseorang tidak mampu menyelesaikan seluruh program studi.
Kemampuan Menghitung Bisa Dilatih
Kemampuan matematika bukan sesuatu yang sepenuhnya tidak bisa berubah. Siswa yang awalnya merasa tidak suka atau tidak percaya diri dengan matematika dapat menjadi lebih terbiasa ketika sering menggunakannya.
Dalam Teknologi Pangan, latihan dapat dilakukan melalui tugas, praktikum, dan persoalan yang berkaitan dengan bahan maupun proses pengolahan makanan. Ketika mengetahui tujuan dari sebuah perhitungan, materi terkadang terasa lebih mudah dipahami dibandingkan sekadar mengerjakan soal tanpa mengetahui penerapannya.
Karena itu, jangan menjadikan label “tidak jago matematika” sebagai batas kemampuan diri. Justru masa kuliah dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan kemampuan yang sebelumnya masih kurang.
Minat pada Pangan Juga Penting
Ketika memilih jurusan, kemampuan akademik memang perlu diperhatikan, tetapi minat juga tidak kalah penting. Siswa yang tertarik dengan makanan, proses produksi, eksperimen, sains, atau pengembangan produk dapat memiliki motivasi lebih besar untuk mempelajari materi yang menjadi bagian dari Teknologi Pangan.
Misalnya, seseorang yang penasaran mengapa makanan bisa berubah tekstur setelah dipanaskan mungkin akan lebih tertarik memahami ilmu di balik proses tersebut. Begitu pula dengan siswa yang ingin mengetahui bagaimana makanan dapat memiliki umur simpan lebih panjang atau bagaimana kualitas produk dikendalikan.
Rasa ingin tahu semacam itu dapat menjadi modal selama menjalani perkuliahan. Ketika menemukan materi yang sulit, adanya ketertarikan terhadap bidang yang dipelajari dapat membantu mahasiswa tetap termotivasi untuk mencari pemahaman.
Ada Banyak Kemampuan yang Bisa Dikembangkan
Kuliah Teknologi Pangan juga melatih berbagai kemampuan di luar matematika. Ketelitian, kemampuan melakukan pengamatan, bekerja dalam tim, mengikuti prosedur laboratorium, menganalisis masalah, dan menyampaikan hasil penelitian merupakan bagian dari keterampilan yang dapat dibangun selama perkuliahan.
Kemampuan tersebut nantinya dapat berguna ketika lulusan memasuki dunia kerja. Bidang seperti Quality Control, Quality Assurance, Food Analyst, Product Development, dan Food Technologist membutuhkan kombinasi antara pengetahuan teknis dan kemampuan bekerja secara teliti.
Dengan demikian, calon mahasiswa tidak perlu melihat kemampuan matematika sebagai satu-satunya ukuran apakah dirinya akan berhasil di Teknologi Pangan.
Perlu Siap Belajar, Bukan Harus Sudah Pintar
Pada akhirnya, anak yang tidak jago matematika tetap bisa masuk Teknologi Pangan. Matematika memang menjadi bagian dari pembelajaran dan ada materi yang membutuhkan kemampuan berhitung, tetapi mahasiswa tidak dituntut sudah menguasai semuanya sebelum memulai kuliah.
Yang lebih penting adalah kesiapan untuk belajar, memperbaiki kemampuan dasar, dan tidak mudah menyerah ketika menemukan materi yang belum dikuasai. Jika memiliki ketertarikan terhadap dunia pangan dan bersedia mengembangkan kemampuan secara bertahap, kelemahan dalam matematika tidak harus menjadi alasan untuk mengubur rencana memilih jurusan Teknologi Pangan.
Artikel Terkait
Artikel Lainnya